Flickr Photogallery

Subscribe Newsletter

subscribe with FeedBurner

Optimasi Pemakaman Muslimin Sebagai RTH Potensial di Perkotaan

mkm01
Shares and Likes

 Optimasi Pemakaman Muslimin Sebagai RTH Potensial di Perkotaan *

*) Sebuah Gagasan Awal,  disajikan sebagai sebuah pemikiran awal mengatasi masalah kesulitan penyediaan lahan pemakaman di perkotaan

Oleh  :  Firmansam Bastaman

 

Pendahuluan

mkm01Keterbatasan lahan serta tingginya harga lahan di perkotaan merupakan fenomena yang tidak dapat dihindari.  Tingginya permintaan akan lahan di satu sisi serta terbatasnya jumlah lahan di sisi yang lain,   menjadi pemicu yang signifikan terhadap melonjaknya harga lahan ini.  Ketersediaan lahan kosong di perkotaan saat ini  dapat di katagorikan sebagai barang langka yang sulit di peroleh sekalipun dengan dana yang besar.   Dampak ekologis baik sosial maupun fisik, kerap kali muncul sebagai akibat  pembebasan lahan.  Akibat buruk yang ditimbulkan sebagai akibat konversi lahan yang banyak dilakukan masyarakat ini, tidak ternilai lagi harganya.  Banjir, kelangkaan air,  kerusakan plama nutfah,  pencemaran,  terganggunya keaneka ragaman hayati serta berbagai kerusakan lainnya, merupakan  fenomena kerusakan lingkungan sebagai akibat hubungan interaksi manusia dengan lingkungannya ( Iskandar.2009). Masalah lingkungan seperti diuraikan di atas banyak terjadi di perkotaan. Tingginya angka pertambahan penduduk baik sebagai akibat jumlah kelahiran maupun urbanisasi menjadi pemicu terjadinya konversi lahan tidak terbangun menjadi lahan terbangun, sebagai konsekwensi  logis dari tingginya jumlah penduduk di perkotaan.

Menghadapi kondisi seperti diatas, perkotaan di Indonesia perlu melakukan langkah-langkah perbaikan atau antisipasi terhadap keadaan seperti digambarkan di atas. Kota Bandung sebagai kota dengan katagori kota besar, telah mengalami permasalahan lingkungan yang sangat serius. Banjir di Bandung Selatan yang selalu terjadi setiap tahun, penurunan air muka tanah serta penurunan kualitas air tanah, erosi dan sedimentasi serta pencemaran udara, adalah permasalahan yang belum dapat diatasi hingga saat ini.

Kota Bandung seluas 16. 767 km2 menurut Perda Kota Bandung nomor 06 tahun 2006 tentang Pemekaran dan pembentukan wilayah kerja kecamatan dan kelurahan di lingkungan Pemerintah Kota Bandung terbagi dalam 30 Kecamatan dan  151 Kelurahan. Penduduk Kota Bandung berdasarkan BPS Kota Bandung tahun 2009 adalah 2.402.215 jiwa dengan rata-rata pertambahan penduduk sebesar 1,42%. Dengan jumlah dan rata-rata pertambahan pendudukk sebesar itu maka tingkat kepadatan penduduk adalah sebesar 44.792  jiwa/Km2.  Dengan kepadatan sebesar itu maka Kota Bandung dikatagorikan sebagai kota dengan penduduk sangat padat.

mkm03Ilustrasi di atas untuk menggambarkan latar belakang tingginya kebutuhan lahan untuk memenuhi kebutuhan pemukiman, penyediaan sarana dan prasarana, fasilitas umum, serta konsumsi material dan energi dari sumberdaya yang ada. Menghadapi tekanan penduduk sebesar itu maka konversi ruang terbuka hijau  ( RTH ) menjadi lahan terbangun adalah salah satu dampak yang banyak terjadi. Berkurangnya taman – taman kota, hilangnya jalur hijau sungai, jalur hijau jalan KA, jalur hijau SUTT yang berubah menjadi pemukiman dan semakin menyempitnya halaman di perumahan adalah fenomena yang saat ini terjadi di kota-kota di Indonesia. Hasil penelitian Rani ( 2011 ), menyatakan bahwa rata-rata luas RTH privat ( halaman terbuka) di Kelurahan Garuda Kota Bandung adalah 1,6 % dari luas kavlingnya. Angka ini memberikan ilustrasi bahwa setiap 100 m2 kavling pemukiman di Kelurahan Garuda, hanya tersisa 1,6 m2 lahan tidak terbangun, atau building coverage ( BCR ) mencapai 98,4 %. Dengan BCR setinggi ini tidaklah mengherankan jika  hal semacam i ni menjadi pemicu terjadinya banjir dan rendahnya resapan air.

Mengacu pada Permenpu no 5/PRT/M/2008  tentang  Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Wilayah Perkotaan,  pemakaman di perkotaan merupakan salah satu ruang terbuka hijau kota.  Dilihat dari fungsi ruang terbuka hijau kota, maka sumbangan pemakaman terhadap ekosistem kota adalah sebagai tempat tumbuh tanaman, paru-paru kota dan  daerah resapan air.

Berdasarkan pengamatan lapangan, ternyata  ketiga fungsi ruang terbuka hijau di atas hampir tidak mungkin dilaksanakan oleh pemakaman muslim pada umumnya.  Kebiasaan masyarakat untuk membangun makam dengan bangunan perkerasan  permanen, menyebabkan pemakaman menjadi lahan penuh perkerasan yang diperkirakan memiliki building coverage ratio ( BCR ) lebih dari 90 %.  Dengan kondisi seperti tersebut, maka patut diragukan jika pemakaman dapat dikatagorikan sebagai RTH.

Ditinjau dari kenyamanan  peziarah,  TPU yang telah  menampung jumlah makam yang melebihi kapasitas maksimalnya ini, sangatlah memprihatinkan.  Tidak tersedianya sirkulasi pejalan kaki yang memadai, serta kurangnya pohon pelindung menyebabkan  pemakaman tidak dapat memberikan kenyamanan pada pengunjungnya. Padahal tidak jarang pengunjung harus berjalan sangat jauh untuk mencapai kuburan kerabatnya, dengan harus menginjak makam satu dengan lainnya, di tengah teriknya sinar matahari. Hal ini terjadi karena kemampuan pemerintah kota untuk menyediakan lahan pemakaman sangatlah terbatas, mengingat harga lahan serta ketersediaan lahan di perkotaan. Sebagai ilustrasi jumlah orang yang dikuburkan di TPU milik Pemerintah Kota Bandung rata-rata 17 orang per hari.  Sehingga jika kebutuhan lahan kuburan adalah  3 meter2 ( termasuk sirkulasi ). maka setiap harinya diperlukan lahan seluas  51 m2, atau sekitar 1,85 ha setiap tahunnya. Apabila pengelolaan pemakaman tetap seperti sekarang ini, maka tidak saja pemerintah kota menghadapi kesulitan menyediakan lahan pemakaman, tetapi juga kehilangan potensi peningkatan luas RTH seperti yang di persyaratkan oleh undang-undang.

Dengan terbatasnya lahan serta kemampuan pemerintah kota dalam pendanaan, maka upaya perluasan pemakaman dapat dipastikan menghadapi banyak kendala. Upaya perluasan lahan pemakaman oleh pemerintah kota, telah menyebabkan lahan pemakaman yang tersedia berada jauh dari jalan  dan tidak jarang pada lokasi yang sulit di jangkau karena kondisi topografi  berlereng terjal.

Dari uraian tersebut diatas terlihat terjadi kesenjangan antara pemakaman sebagai fasilitas pelayanan bagi masyarakat seperti yang terlihat di perkotaan, dengan pemakaman sebagai ruang terbuka hijau. Dari kondisi ini perlu dicarikan solusi kebijakan pengelolaan pemakaman, agar mampu melayani kebutuhan masyarakat tetapi dapat berperan secara optimal sebagai RTH Kota.

Permasalahan Pemakaman di Beberapa Kota di Indonesia

Kota besar di Indonesia menghadapi masalah TPU yang serupa. Sulitnya mendapatkan lahan, pemakaman yang telah penuh serta mahalnya harga adalah masalah yang pada umumnya dihadapi oleh – kota besar di Indonesia. Pemakaman yang telah penuh menyebabkan sulitnya mendapatkan lahan pemakaman. Berikut ilustrasinya yang di kutip dari beberapa media.

mkm07

TPU DKI Jakarta; Pada 2013, diperkirakan pemakaman di Jakarta sudah penuh. Ketersediaan lahan tempat pemakaman umum (TPU) pun diprediksi hanya mampu ditempati hingga tahun 2013. Saat ini, dari 590 hektar areal pemakaman di Jakarta hanya tersisa 31,8 hektar. Padahal, tiap tahunnya ada sekitar 40.000 jiwa meninggal dan memerlukan tempat peristirahatan terakhir. Mengatasi hal tersebut diatasi dengan pengerukan lahan baru seluas 202 hektar. Selain penambahan lahan, langkah lain yang dilakukan Dinas Pertamanan dan Pemakaman DKI Jakarta juga mulai mensosialisasikan sistem tumpang. Sistem tumpang hanya bisa dilakukan bagi jenazah yang masih satu keluarga dan memperoleh izin dari keluarga almarhum yang lebih dulu menempati makam itu. Seluruh TPU di Jakarta Pusat tidak lagi bisa melakukan galian baru untuk makam. Sistem tumpang kini menjadi satu-satunya cara untuk menampung penghuni baru.(Ceritamu.com. 2011)

Konsekwensi yang harus ditanggung oleh masyarakat adalah biaya untuk pemakaman menjadi sangat mahal.  Biaya yang dikenakan untuk pemakaman di TPU Sungai Bambu Tanjung priok, mencapai 700 – 1,2 juta dan di TPU Karet dikenakan biaya Rp. 1.050.000. Padahal sesuai dengan ketentuan tarif retribusi petak makam sesuai Perda No. 1 tahun 2006 tentang retribusi daerah, untuk blok AA1 per tiga tahun Rp100 ribu, AA2 Rp80 ribu, A1 Rp60 ribu, A2 Rp40 ribu, dan A3 gratis untuk Gakin. ( Pos Kota, 18 Oktober 2010 ).   Sedangkan untuk perpanjangan per tiga tahun berikutnya, hanya dikenakan biaya 50 persen dari tarif tersebut. Guna mensiasati hal itu, Kantor Pelayanan Pemakaman (KPP) Jakarta Utara tengah membidik lahan seluas 6,80 hektar di Kelurahan Rorotan yang kondisinya masih dalam bentuk areal pesawahan.( Pos Kota. 8 april 2010 )

mkm09TPU Surabaya ; Kota Surabaya menghadapi permasalahan TPU yang sama dengan kota besar lainnya di Indonesia. Mahal dan sulitnya mendapatkan lahan pemakaman berdampak pada harga lokasi makam melambung tinggi. Hal ini membuat ahli waris harus mengeluarkan biata tinggi untuk mendapatkan satu petak lahan pemakaman. Pemakaman Umum (TPU) Keputih, para ahli waris harus membayar uang sewa sebesar Rp 100 ribu selama 3 tahun meski juga harus tetap membayar biaya lainnya. Beban lainnya adalah untuk papan welingat atau papan penutup jenasah seharga Rp 250 ribu untuk 13 papan, tenda dan nisan masing-masing seharga Rp 100 ribu.Tidak hanya itu, ahli waris juga biaya penataan makam  sebesar Rp 750 ribu untuk nisan cor dan Rp 250 ribu untuk tanah dan rumput. ( Detik. Com 18 Maret 2010 ).

TPU di Palembang ; Terdapat 12 titik lokasi Tempat Pemakaman Umum (TPU) di Kota Palembang. Dari ke-12 lokasi TPU tersebut, rata-rata TPU sudah terisi sekitar 95% – 97%; sedangkan untuk TPU Talang Jambe (khusus non muslim) dan TPU Kebun Bunga yang merupakan TPU yang masih baru, telah terisi sekitar 40%-65%.

Untuk mengantisipasi penuhnya lokasi untuk tempat pemakaman umum yang ada, pada tahun 2008 Dinas Kebersihan dan Pemakaman Kota Palembang telah menganggarkan perkembangan lahan untuk TPU baru, yaitu TPU di daerah seberang ulu seluas 10 Ha; TPU di daerah Sako seluas 5,5 Ha; dan TPU di daerah Gandus seluar 4,6 Ha (Sumatera Ekspress, 31 Januari 2008).

TPU di Kota Medan ;  Tanah Pemakaman Umum (TPU) Nasrani yang dikelola Pemko Medan ada di 6 lokasi ma­sing-masing Pemakaman Kris­ten Tanjung Selamat Jalan Flam­boyan Tanjung Selamat-Medan Selayang, Pemakaman Kristen Simalingkar B Jalan Rampe Kelurahan Simalingkar B Kecamatan Medan Tuntungan, Pemakaman.

Kristen Patumbak Jalan Turi Ujung Kelurahan Timbangdeli-Medan Amplas, Pemakaman Kristen Abdullah Lubis Kelurahan Babura-Medan Baru, Pemakaman Kristen Pa­dang­bulan Jalan Jamin Ginting-Medan Baru dan Pemakaman Kristen Gajah Mada Ujung Jalan Gajah Mada Perempatan Jalan Iskandar Muda-Medan Petisah.

Hasil penelitian mahasiswa Pasca Sarjana USU, Ronal Rezeki Tarigan dalam tesisnya yang berjudul Aspek Ekonomi pada Pengelolaan Tanah Pemakaman Umum Kristen di Kota Medan ( 2008 ), disebutkan dari tujuh Lokasi Tanah Pemakaman Umum Kristen di Kota Medan, kini enam diantaranya sudah tidak berfungsi lagi. Kuat duga­an karena sudah “over load” alias telah melampau batas mak­simal. Hanya saja tidak disebutkan pemakaman mana yang masih berfungsi. ( Sirait, 2011 )

Pemerintah Kota Medan diminta segera menyiapkan lahan tempat pemakaman umum baru, mengingat lahan yang selama ini tersedia sudah sangat sempit.  “Penyediaan lahan baru untuk TPU (tempat pemakaman umum) sudah sangat mendesak.  Di 21 kecamatan di kota Medan, warga menegeluh perihal ketersediaan lahan untuk TPU lantaran lokasi perkuburan yang ada saat ini sudah terlalu sempit dan sulit menampung jenazah yang hendak dikebumikan.( Waspada Online, 2010 ).

TPU Balikpapan : Tempat Pemakaman Umum (TPU) di kota Balikpapan, belakangan ini banyak yang kondisinya sudah tidak layak karena sudah tidak menyisakan tempat lagi untuk melakukan penguburan mayat. Setidaknya ada 9 TPU di Balikpapan yang daya tampungnya sudah memenuhi batas maksimum. “TPU yang penuh dibiarkan, jangan lagi ditambah. TPU terpadu di Km 15 Jalan Soekarno-Hatta memiliki luas lahan 48 hektare (Ha) bisa dimanfaatkan secara maksimal. TPU terpadu itu sengaja dibuat untuk mengantisipasi adanya penumpukan di TPU-TPU yang tergolong padat. Usaha pengalihan pemakaman jenazah ke TPU terpadu tersebut, untuk sementara masih dalam proses pengodokan agar memiliki kekuatan hukum yang baik. Dalam waktu yang tidak lama lagi, masalah mengenai TPU terpadu tersebut akan segera dirampungkan pihak-pihak terkait yang memiliki wewenang dalam masalah TPU.

TPU yang sudah penuh untuk tidak lagi menerima penguburan jenazah, masyarakat juga jangan memaksakan walau TPU yang penuh itu ada di lingkungannya Pemakaman muslim menempati area seluas 20 Ha, Kristen Katolik dan Protestan 3 Ha, Yayasan Budi Luhur 13 Ha, warga Tionghoa Islam 4 hektar. Setelah Raperda disahkan menjadi Perda, rencananya sejumlah TPU yang dianggap padat segera dilakukan penutupan dengan cara dipagar. TPU padat itu diantaranya pemakaman di Jl Soekarno Hatta Km 0,5, Asrama Bukit, Prapatan, Pasar Baru, dan TPU Merdeka. Setelah ditutup, makam-makan tersebut keberadaannya akan dirawat dan ditata oleh Dinas Kebersihan Pertamanan dan Pemakaman ( Balik Papan Pos. 2009 ).

TPU Menado : Teling atas mulai penuh. Masyarakat berharap pemkot Manado khususnya instansi terkiat masalah ini proaktif mencari lahan baru   untuk kawasan TPU. Kawasan lahan TPU di Manado sudah penuh termasuk di kawasan Teling atas.  Sekkot Manado Harol Manoreh meminta lurah dan camat untuk melakukan inventarisir semua kawasan pekuburan yang ada di Manado untuk  jadi bahan acuan  bagi dinas Pertamanan kota Manado mencarikan lokasi kuburan yang baru. Disamping itu Manoreh berharap warga yang ada disekitar pekuburan untuk tetap memperhatikan kebersihan. “ Rencananya TPU jadikan kuburan juga menjadi salah satu lokasi wisata. ( Posko Manado. 2009 ).

TPU Jayapura ; Meskipun Tempat Pemakaman Umum (TPU) yang berlokasi di Tanah Hitam Distrik Abepura lahannya telah penuh, namun masih banyak masyarakat yang masih membandel dan melakukan pemakaman di TPU tersebut. Sebagian besar masyarakat  beralasan tempatnya tidak terlalu jauh untuk dijangkau sehingga tetap melakukan pemakaman di TPU tersebut. TPU baru yang jauh di Nafri, lahan yang akan digunakan di Nafri tersebut belum diselesaikan dengan baik administrasi dan perijinannya antara pihak Pemerintah Kota Jayapura dan pihak adat selaku pemilik hak ulayat. Pertimbangan utama dari masyarakat menggunakan TPU Tanah Hitam adalah yang pertama faktor kedekatan, kemudian bagi Pemerintah Kota Jayapura untuk TPA Nafri adalah belum dapat dimanfaatkan secara maksimal karena Pemerintah Kota Jayapura belum menyelesaikan urusan adatnya sehingga kedepan akan diupayakan untuk segera menyelesaikan permasalahan pembebasan lahan yang akan digunakan untuk lahan pemakaman.    Kota Jayapura, kesulitan untuk mendapatkan lahan pemakaman yang baru sehingga untuk selanjutnya akan dilihat dan direncanakan lagi mana tempat yang strategis dan cocok untuk digunakan sebagai lahan pemakaman oleh masyarakat. (Bintang Papua. 20 April 2011 ).

Pengelolaan TPU Muslim di Kota Bandung

Pada umumnya pemakaman di perkotaan menggunakan pemakaman umum (TPU milik pemerintah kota ) atau di pemakaman keluarga. Tata cara pemakaman adalah dimasukan kedalam tanah berukuran ± 1 x 2 meter. Setelah itu tempat pemakaman tersebut di klaim sebagai pemakaman milik keluarga, sehingga keluarga tersebut memiliki hak untuk melakukan pembangunan sesuai dengan seleranya masing-masing.

Karena keterbatasan lahan, beberapa tahun belakangan ini dikembangkan model pemakaman tumpang, dimana pada makam yang telah terisi tersebut diisi kembali dengan jenasah kerabat. Model pemakaman tumpang hanya dapat dilakukan untuk kerabat dekat saja, sehingga hak penguasaan  masih tetap pada keluarga  tersebut.

Sedangkan hak kepemilikannya adalah pemerintah kota atau yayasan. Masyarakat membayar biaya retribusi setiap tahun. Masyarakat yang tidak membayar biaya retribusi dalam kurun waktu tertentu dianggap tidak lagi berminat untuk menggunakan makam tersebut, sehingga pemerintah kota dalam hal ini Dinas Pemakaman Kota Bandung, dapat memindah tangankan pada pihak lain yang membutuhkan.

Karena bentuk pemakaman yang sangat individual, maka kegiatan ziarah yang dilakukan masyarakat, juga sangat individual, pada masing-masing pemakaman.

Lahan yang ada sangat terbatas sedangkan permintaan pemakaman setiap harinya terus datang, Melihat kondisi ini pengelola berusaha memenuhi permintaan pemakaman dengan cara menyisipkan makam baru diantara makam yang ada. Akibatnya pemakaman menjadi saling berhimpitan dan tumpang tindih. Tatacara semacam ini menyebabkan sulitnya pengaturan lahan untuk memenuhi kebutuhan permakaman, sehingga pemakaman menjadi padat dan sangat tidak beraturan. Akhir-akhir ini pemerintah kota berusaha menata pemakaman dengan bentuk yang tidak diperkeras( pemakaman rumput ). Walaupun baru sebagian kecil yang telah tertata, tetapi hasilnya secara estetis menjadi sangat baik. Permasalahannya daya tampung pemakaman rumput lebih kecil dari pada pemakaman beton yang sekarang ada.

mkm-bdg01mkmbdg03

Gambar 6. Pemakaman Muslim di Kota Bandung

 

Solusi Penyediaan Pemakaman sebagai  RTH di Perkotaan

Tantangan penyediaan TPU Muslim di perkotaan adalah harus mampu menampung kebutuhan permakaman dengan tarif yang terjangkau sesuai tingkat mortalitas penduduk yang dilayaninya, di sisi lain harus memberi kontibusi sosial, estetis, ekonomis dan ekologis pada kota, agar dapat bermanfaat secara berkesinambungan. Ketersediaan lahan yang amat terbatas dan mahal diperkotaan juga merupakan tantangan dalam penyediaan fasilitas ini di perkotaan. Untuk mengatasi tantangan tersebut maka kriteria pengelolaan pemakaman harus mempertimbangkan  aspek-aspek berikut ini :

1. Merubah secara medasar kebiasaan pengelolaan pemakaman yang selama ini berlaku.
2. Tidak bertentangan dengan kaidah agama ( Islam )
3. Peraturan pendukung yang konsekwen dilaksanakan ( perda ).
4. Sosialisasi yang konprehensif sehingga dipahami oleh segenap lapisan masyarakat.
5. Penataan lansekap RTH pemakaman agar memberikan kontribusi ekologis dan estetis, sehingga menjadi tempat    aktifitas sosial yang menyenangkan.
6. Masyarakat masih mengkinkan memiliki alternatif pilihan, dengan persyaratan tertentu.

Berikut ini dua gagasan awal konsepsi pengelolaan pemakaman sebagai bahan untuk didiskusikan, dikaji dan diteliti penerapannya, agar dapat mengatasi masalah serta meningkatkan fungsi pemakaman sebagai RTH di perkotaan.  Konsepsi ini diajukan sebagai bahan pemikiran kita bersama tentang model pengelolaan pemakaman, mengingat permasalahan pemakaman di perkotaan telah demikian krusial serta permasalahan penyediaan RTH yang sangat mendesak.

Pemakaman Komunal

Gagasan di bawah ini merupakan gagasan pengelolaan pemakaman untuk mengatasi keterbatasan lahan di perkotaan yang saat makalah ini ditulis masih dalam tahap penelitian. Gagasan semacam ini harus mulai difikirkan sejak dini khususnya di kota-kota kabupaten. Secara bertahap disosialisasikan, jangan menunggu permasalahan mendesak, seperti dialami berbagai kpota besar di Indonesia. Gagasan ini masih perlu dikaji di diskusikan dengan berbagai lapisan masyarakat, agar dalam pelaksanaannya tidak meyebabkan reaksi sosial yang tidak di harapkan. Konsepsi pengelolaan pemakaman semacam ini disebut  “pemakaman komunal”. “Pemakaman komunal”  adalah blok-blok pemakaman yang masing-masing memiliki luas  tertentu,  yang dapat digunakan sebagai pemakaman non permanen yaitu makam yang tidak ditandai dengan ciri khusus.  Dengan pengaturan waktu tertentu, lokasi pemakaman tersebut dapat diisi secara terus menerus.  Lokasi pemakaman berada pada area yang mudah dijangkau, dilengkapi dengan shelter yang nyaman, agar peziarah dapat melakukan ritualnya pada shelter-shelter yang telah disediakan disekitar blok-blok pemakaman tersebut.

Proses pemakaman communal secara umum sama dengan pemakaman muslim biasa, perbedaannya pada makam tersebut pada waktu tertentu akan diratakan dan ditutup rumput sehingga pemakaman yang ada hanya berupa hamparan rumput. Dengan demikian keangkeran pemakaman tidak akan terasa karena yang nampak hanya berupa hamparan rumput hijau. Hamparan rumput ini akan diisi kembali dengan jenasah baru apabila blok pemakaman lainnya telah penuh terisi. Cara ini akan terus berulang secara periodik dalam kurun waktu tertentu secara bergiliran di tiap blok.  Untuk mengetahui siapa saja yang telah dimakamkan pada tiap blok, maka nama nama orang yang dimakamkan pada tiap blok di tulis pada prasasti yang berada di tiap blok pemakaman. Secara tioritis menerapkan model pemakaman ini tidak perlu menambah luasan pemakama lagi di masa yang akan datang. Berikut ini bagan alir proses pemakaman communal, yang akan diteliti, efektifitas dalam pemanfaatannya. Menginginat pemakaman terkait aspek sosial yang sangat sensitif,  pemerintah kota harus tetap menyediakan alternatif pemakaman individual dengan berbagai ketentuan baru yang tidak kontra produktif dengan penerapan “pemakaman communal”. Hal ini agar memungkinkan masyarakat mempunyai hak untuk mendapatkan alternatif pilihan.

Untuk mewujudkan konsep tersebut perlu dilakukan penelitian yang mampu menjawab beberapa pertanyaan diperlukan mendukung rancangan, meliputi aspek yang berkaitan dengan pengelolaan dan dimensi penyediaan ruang yang di perlukan agar proses pemakaman dapat berjalan sesuai keinginan.

Secara skematis proses pemakaman communal dapat dilihat pada gambar berikut ini.

 Proses dan Perlakuan Pemakaman Komunal

 

Penerapan Pemakaman Komunal

 

Dari gambar skematis model pemakaman yang akan diterapkan maka diperlukan penelitian untuk mendapatkan jawaban terhadap hal-hal sebagai berikut :

  1. Untuk mengetahui luas setiap blok pemakaman di butuhkan data empiris lama rata-rata makan dapat diisi kembali.
  2. Kemungkinan perlakuan yang dapat mempercepat makam dapat diisi kembali.
  3. Berapa luas ideal sebuah blok pemakaman yang terasa masih akrab sehingga masih terasa nyaman bagi aktifitas peziarah.
  4. Fasilitas apa saja yang dibutuhkan sehingga pemakaman ini tidak hanya nyaman bagi peziarah, tetapi juga nyaman bagi pengunjung.
  5. Fungsi RTH yang dapat dihasilkan dari model pemakaman communal yang dirancang.

Penutup

Dengan meningkatnya daya tampung pemakaman, serta adanya perubahan tatacara pemakaman maka memungkinkan hal-hal sebagai berikut :

  1. Kebutuhan lahan pemakaman tidak lagi mendesak seperti sekarang ini, sehingga menjadi permasalahan dalam pemenuhannya.
  2. Memungkinkan penataan lahan pemakaman sehingga lebih menyenangkan dan memberi kontribusi pada keindahan lingkungan.
  3. Meningkatkan resapan air serta tersedia lahan untuk meningkatan jumlah vegetasi
  4. Menjadi sarana aktifitas sosial masyarakat ( jogging, rekreasi pasif dan lain sebagainya)
  5. Menambah luasan RTH publik di perkotaan serta mengembalikan peranan pemakaman sebagai RTH sesuai arahan undang-undang.

Dari uraian di atas ternyata model pengelolaan pemakaman yang ada saat ini akan menimbulkan permasalahan di kemudian hari. Diharapkan tulisan ini dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi pemerintah kota, untuk  mengantisipasi permasalahan pemakaman yang akan timbul di kemudian hari. Dengan demikian sejak dini sudah disiapkan dan disosialisasikan, agar tidak mengalami permasalahan di masa yang akan datang.

Bandung Juni 2011

 

 

Bahan Bacaan :

Balik Papan Pos. 16 Desember 2009. TPU  Penuh Jangan ditambah, Perda TPU Terpadu Masih digodok. Balikpapan.

Bintang Papua. 20 April 2011. TPU Sudah Penuh. Masyarakat Membandel.

Detik. Com 18 Maret 2010. Lahan Makam Menghilang Mahalnya harga Kematian

Iskandar, Djohan. 2009. Ekologi Manusia Dan Pembangunan Berkelanjutan. PS magister Ilmu Lingkungan, Unpad.

Nopriheryani, Rani. 2011. Analisis Penyediaan Ruang Terbuka Hijau Privat di Kelurahan Garuda Kota Bandung. Skripsi. Teknik Planologi Unpas.

Pos Kota. 8 april 2010. 6,8 Ha Lahan di Rorotan Diincar Untuk TPU.

Posko Manado. 5 Agustus 2009. TPU Menado Sudah Penuh, Pemkot Cari lahan Baru.

Ronal Rezeki Tarigan. 2008.  Aspek Ekonomi pada Pengelolaan Tanah Pemakaman Umum Kristen di Kota Medan.  Tesisi. Univ. Sumatera Utara.

Sumatera Ekspress. 31 Januari 2008. Pemakaman Umum di Kota Palembang

Sirait Chandra. 2011. Sulit Cari lahan Kuburan di Medan. Jurnal Medan

 

Comment ( 1 )

  1. leoMarch 10, 2016 15 // Reply

    Saya tertarik dengan artikel yang ada di website anda yang berjudul " Optimasi Pemakaman Muslimin Sebagai RTH Potensial di Perkotaan " . Saya juga mempunyai jurnal yang sejenis dan mungkin anda minati. Anda dapat mengunjungi di Indonesia by Universitas Gunadarma

Leave a reply

Your email address will not be published.