MedSos

Archive by category "Pohon"

Mengelola Air Hujan Untuk Mengurangi Volume Air Limpasan (Run-Off Water)

Air hujan, bagi sebagian orang dimaknai sebagai sebuah rahmat dari Sang Maha Kuasa. Akan tetapi, ketika manusia tidak ramah kepadanya, maka peristiwa seperti ini, dan ini, yang mengakibatkan hal seperti ini terjadi, kemudian dibahas di sini terjadi. Semoga ke depan hal seperti ini tidak terjadi lagi di lingkungan tempat tinggal kita.

Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa hal ini terjadi? Bagaimana memperbaikinya? Mari kita lihat satu demi satu…

Apa Sebenarnya yang Terjadi?

Sebelumnya, dapat kita lihat bagaimana sebuah siklus air terjadi di lingkungan kita. Sirkulasi air mulai diperkenalkan di bangku Sekolah Dasar. Dengan mudah kita dapat mencari ilustrasi tentang siklus air ini. Dari sumber ini, ilustrasi di berikut ini diambil. Dalam tulisan lengkapnya juga disebutkan ada beberapa siklus air yang terjadi.

proses-siklus-hidrologi

Sebagai sebuah siklus, tentu terdapat keseimbangan antara arus masuk, keluar, dst, yang ketika terganggu maka dapat menyebabkan gangguan yang seringkali didefinisikan sebagai sebuah bencana, seperti yang terjadi di Kota Bandung beberapa waktu lalu.

Dari ilustrasi di atas dapat dilihat bahwa permukaan tanah yang dapat meresapkan air memiliki peran yang sangat penting dalam proses keseimbangan siklus tersebut. Dalam konteks pembangunan kawasan, bertambahnya kawasan terbangun di atas permukaan tanah berarti volume air yang meresap akan semakin berkurang karena bidang resapan menjadi berkurang, dan dalam waktu bersamaan volume run-off air (air hujan yang mengalir di atas permukaan tanah) akan semakin bertambah. Padahal, dalam salahstau lagu dikatakan bahwa “…. air mengalir sampai jauh… akhirnya ke laut…” Daerah yang berdekatan ke laut dapat mengalirkan air permukaannya secara cepat. Akan tetapi daerah yang jauh dari laut harus melewatkan volume air ini melewati daerah-daerah lain yang secara adminsitratif bisa jadi berbeda. Perjalanan air menuju muara akhir ini yang kemudian berpotensi menjadi sumber masalah.

Secara alamiah, kontur yang membentuk gunung, bukit, lembah dan jurang mengatur aliran air dari hulu ke hilir, hingga laut. Sebagia makhluk pembelajar, sedianya kita dapat mengambil pelajaran dari apa yang diperlihatkan oleh alam. Setiap aliran air memiliki bidang tangkapan (catchment area) tertentu. Ini adalah hal prinsip. Ilustrasi mengenai cathcment area ini dapat dilihat pada gambar berikut (sumbernya di sini)

watershed-diagram2

Ketika lingkungan tidak terjaga, maka kondisi airpun akan mengalami gangguan, seperti ilustrasi berikut yang diambil dari sini

poster_healthycatchment-qld-waterwatch-sml

Bagian kiri menggambarkan kondisi air yang lingkungan (catchment areanya) terjaga, sedangkan sebelah kanan adalah kondisi air yang lingkungan (catchment areanya) tidak terjada. Kita mau pilih yang mana? semoga pilihan kita adalaha bagian sebelah kiri.

Memperhatikan kembali ilustrasi tentang siklus hidrologi/siklus air. Banjir yang sering terjadi di kawasan perkotaan dapat disebabkan oleh volume air limpasan/run-off sedemikian tinggi sehingga tidak dapat tertampung oleh saluran drainase kota, selain juga disebagkan oleh karena dimensi saluran yang tidak memadai, dan atau karena dimensi yang sudah terukur tersebut tidak efektif mengalirkan air karena terganggu/berkurang akibat banyaknya sampah. Kalaupun tertampung, ujung saluran kota akan diarahkan ke mana? Kalau ke daerah lain, tentu akan menjadi beban bagi daerah ‘di bawah’ kota kita.

Kenapa Hal Ini Terjadi?

Tidak dipungkiri bahwa bertambahnya penduduk suatu wilayah menjadi salahsatu penyebab semakin berkurangnya bidang resapan. Hal ini terjadi karena semakin bertambahnya perumahan, bertambahnya fasilitas kota, bertambahnya perkantoran, bertambahnya kawasan komersial, kawasan rekreasi, dan sebagainya yang semua tujuannya untuk memenuhi kebutuhan manusia. Senantiasa terjadi ‘perang’ antara dominasi ekonomi dengan dominasi ekologi. Dengan dalih pembangunan, pihak yang mengutamakan pertumbuhan ekonomi berkilah bahwa penggunaan lahan itu diperlukan. Kerusakan yang terjadi akan dapat diatasi dengan teknologi, demikian seterusnya. Sebagian pihak berpikiran bahwa menjaga kelestarian dan keseimbangan lingkungn akan semakin penting mengingat semakin banyaknya bencana yang terjadi. Perlu kesadaran yang semakin tinggi dan kearifan akan kelestarian alam yang semakin kuat dari semua orang jika kita ingin lingkungan kita senantiasa dapat mendukung kepentingan kita dalam beraktifitas di muka bumi ini.

Bagaimana Memperbaikinya?

Ini hal yang menarik, banyak alternatif solusi, dan yang pasti, perlu dilakukan oleh semua pihak, tanpa kecuali, dengan memaksimalkan potensi, posisi, wewenang dan kemampuan yang dimilikinya. Partisipasi aktif warga masyarakat, pihak swasta sebagai motor dan sponsor utama, serta otoritas pemerintah yang memiliki kewenangan regulasi sekaligus memiliki potensi untuk memelopori di lingkungannya, dapat menghadirkan solusi mengatasi permasalahan yang kadung sudah terjadi.

Dengan bahasa yang seadanya, tulisan ini dapat menjadi ilustrasi apa yang dapat dilakukan oleh pemerintah daerah. Sedangkan gambar-gambar berikut mengilustrasikan bagaimana secara skematis ide tersebut dapat dilakukan di suatu kapling, dalam hal ini adalah kantor walikota. Ya, tugas studio mahasiswa ini membahas tentang implementasi konsep pengaturan ‘zero run-off’ pada sebuah tapak, meminimalkan limpasan air hujan pada saluran drainase. Jadi memang lebih bersifat pencegahan daripada pengobatan (membuat saluran drainase sebesar mungkin).

Prinsipnya, volume air hujan yang jatuh pada sebuah tapak dapat dihitung, sehingga kebutuhan bidang/volume ruang tangkapan (water tank) juga dapat dihitung. Setelah itu, air yang ditampung dapat dimanfaatkan untuk fungsi2 tertentu maupun untuk menambah aspek estetis.

Tugas Studio 3 Arsitektur Lansekap (Program Studi Magister di ITB) Mira Amelia Khairani

1-poster 2-poster

Tugas Studio 3 Arsitektur Lansekap (Program Studi Magister di ITB) Cipta Vidyana

layout-r1

layout-r2

Semoga ada manfaat yang dapat diambil… Salam lestari..

Dialog Profesi April 2016

Berawal dari diskusi di grup WA IALI Jawa Barat tentang beberapa kasus penanaman pohon di kawasan perkotaan yang ditemukan, akhirnya disepakati materi Dialog Profesi Bulan April 2016 mengangkat tema tentang Permasalahan Penanaman dan Pemeliharaan Pohon di Kawasan Perkotaan. Pak Rully Wijayakusuma, anggota IALI Jawa Barat, alumni Universitas Bandung Raya yang juga sempat mengajar di almamaternya tersebut menjadi pemateri dalam dialog profesi bulan ini.

Materi yang disampaikan terkait permasalahan yang dianggap paling krusial dalam pemeliharaan pohon, di kawasan perkotaan (karena materi yang padat, yang dibahas adalah pemeliharaan, materi penanaman akan dijadikan materi terpisah).

Berikut adalah beberapa foto kegiatan di atas:

Persiapan Pak Agus R. Soeriaatmadja selaku tuan rumah dan Ketua PC Bandung membuka acara Paparan materi oleh Pak Rully Wijayakusuma Posisi bebas, yang penting serius ikut diskusi Semua orang antusias berdiskusi Beberapa anggota mahasiswa dari Universitas Bandung Raya

 

Materi dapat di-download melalui menu “Download” di website ini.

Rhapis excelsa

Rhapis excelsa, Lady palm

Nama Latin: Rhapis excelsa

Nama Lokal: Palem Waregu

Jenis: palm, berumpun

Tinggi: mencapai 4 meter Read More →

Citrus sp

Citrus sp

 

Nama Latin: Citrus sp

Nama Lokal: Jeruk Nipis

Tinggi: 5-7 meter, sumber lain menyebutkan tingginya dapat mencapai 3 – 15 meter

Diameter: 3-6 meter Read More →