TREND ARSITEKTUR LANSKAP DI TAHUN 2026

Memasuki tahun 2026 muncul rasa optimisme yang berbeda, setelah enam tahun pasca COVID-19 menjadi Bencana Pandemi di tahun 2020. Bagi beberapa sektor keadaan ekonomi sudah dirasakan membaik, meskipun belum pulih sepenuhnya. Dalam beberapa tahun terakhir profesi Arsitek Lanskap terus bergerak maju dalam proyek-proyek skala besar dan kawasan perkotaan. Munculnya proyek raksasa dari tahun 2022 hingga 2025 lalu, diantaranya Pembangunan infrastruktur dan IKN di tanah air telah menempatkan profesi Arsitek Lanskap menjadi pemain penting dalam pembangunan konstruksi di tanah air.

Isu Climate Change Memiliki Pengaruh Yang Lebih Besar Pada Desain

Pemerintah, Lembaga Swasta, Kampus, dan organisasi masyarakat telah beralih dari sekedar mendiskusikan dan memperdebatkan perubahan iklim menjadi mendukung berbagai inisiatif melalui dukungan finansial dan persyaratan lelang. Arsitektur Lanskap diyakini akan mampu mengatasi berbagai masalah (banjir, kekeringan, penurunan keanekaragaman hayati, urban heat island) dengan solusi yang didasarkan pada ilmu pengetahuan, seni, dan alam.

Organisasi profesional seperti IFLA World, ASLA (Amerika), AILA (Australia), IALI (Indonesia), dan lainnya menyediakan kebijakan dan alat bagi para Arsitek Lanskap untuk membantu mengurangi atau menghilangkan emisi karbon dari proyek-proyek mereka. Organisasi-organisasi ini juga mendorong perusahaan lanskap untuk maju dengan menjalankan program pendidikan dan memasukkan kriteria keberlanjutan (sustainability) dalam program penghargaan.

Perusahaan perencana (konsultan), pelaksana (kontraktor), dan pengawas (MK) akan menempatkan persyaratan yang lebih signifikan guna  pengurangan emisi agar sesuai dengan rencana aksi pengguna jasa dan kebijakan ESG mereka. Persyaratan ini akan datang dalam berbagai bentuk yang perlu menunjukkan bahwa mereka memiliki kredensial lingkungan (penyeimbangan karbon, manajemen air, efesiensi energi, dll) dalam mengoperasikan perusahaan mereka, dan mereka juga harus memberikan data atau sertifikasi bahwa desain untuk proyek akan mencapai pengurangan emisi atau penyerapan karbon dibandingkan dengan desain konvensional umumnya.

Fenomena mandatory Tenaga Ahli Bangunan Gedung Hijau (BGH) yang bersertifikat dari Kementerian PU, dan atau Greenship Professional dari GBCI telah menjadi rutinitas dalam Tender Pemerintah Pusat atau Pemerintah daerah di tahun-tahun sebelumnya. Dalam menyediakan jasa pekerjaannya, Tenaga Ahli tersebut membutuhkan masukan dari Arsitek Lanskap berupa pemilihan material softscape, hardscape, hingga perhitungan luas ruang terbuka hijau. Pada tahun 2026, kebijakan ini akan semakin menguat dengan sifat mandatory bagi pembangunan proyek swasta dan hunian pribadi masyarakat. Mengatasi perubahan iklim tidak hanya terbatas pada masalah lingkungan ruang luar, namun juga masalah terdapat lingkungan didalam bangunan. Selama beberapa tahun terakhir, terlihat jelas bahwa ada kebutuhan untuk mengatasi masalah sosial yang berkaitan dengan keadilan ekonomi, kesetaraan, keragaman dan inklusi di dalam masyarakat. Para Arsitek Lanskap harus menjadi bagian dari percakapan ini dan berusaha untuk memimpinnya pada tahun 2026.

Bioswale

Diantara Solusi Alami dan Rekayasa

Tahun 2026 diprediksi akan menjadi titik balik krusial dalam dunia Arsitektur Lanskap, di mana dikotomi antara solusi alami dan intervensi rekayasa mulai melebur menjadi satu entitas tunggal. Selama ini, pandangan umum cenderung mempertentangkan keduanya, dimana solusi alami sering kali dipandang sebagai pendekatan yang ideal dan etis, sementara rekayasa teknis dianggap sebagai bentuk intervensi manusia yang kaku. Namun, perspektif baru yang menyatukan kedua elemen ini muncul sebagai jawaban atas kompleksitas permasalahan lingkungan saat ini. Dalam paradigma ini, teknologi tidak lagi dilihat sebagai perusak alam, melainkan sebagai katalisator yang memperkuat fungsi ekologis.

Salah satu pilar utama dalam pengintegrasian solusi rekayasa masa depan adalah pemanfaatan Kecerdasan Buatan atau Artificial Intelligence (AI). Dalam beberapa tahun terakhir, AI telah bertransformasi dari sekadar konsep teoretis menjadi perangkat praktis yang sangat berpengaruh. Spektrum aplikasinya dalam Arsitektur Lanskap kini sangat luas, mulai dari pembuatan visualisasi desain melalui platform seperti Midjourney dan DALL-E, penyusunan narasi teknis melalui model bahasa besar seperti ChatGPT, Gemini, hingga fungsi yang lebih teknis seperti pemodelan medan digital dan inventarisasi hutan kota secara presisi. Transformasi ini menandai pergeseran fundamental dalam alur kerja profesional: dari penggunaan alat manual atau semi-otomatis menuju sistem otomatisasi tinggi yang mampu menguji berbagai opsi desain serta memberikan analisis data yang mendalam untuk menghasilkan keputusan desain yang lebih akurat. Meskipun potensi efisiensi yang ditawarkan sangat besar, adopsi AI dalam profesi ini bukannya tanpa tantangan. Muncul berbagai isu krusial yang perlu disikapi dengan bijak, mulai dari aspek etika penggunaan data, keaslian deklarasi desain, hingga standarisasi akreditasi profesi di tengah gempuran teknologi. Tantangan ini diharapkan tidak menjadi penghambat bagi adopsi teknologi AI, melainkan menjadi koridor untuk memastikan bahwa teknologi tersebut digunakan secara bertanggung jawab. Dengan dukungan dari pengembang seperti OpenAI dan inovator teknologi lainnya, AI memiliki peluang besar untuk secara dramatis membantu Arsitek Lanskap dalam merancang solusi inovatif bagi permasalahan global. Masa depan arsitektur lanskap akan ditentukan oleh sejauh mana kita mampu mengharmonisasikan kecanggihan algoritma dengan kearifan ekosistem alami.

Dari Sekadar Emisi Menuju Pemulihan Keanekaragaman Hayati

Pasca-kesepakatan historis pada pertemuan PBB COP30 di Belém, Brasil, paradigma penanganan krisis iklim global mengalami pergeseran fundamental. Fokus kebijakan yang sebelumnya sangat berat pada metrik emisi karbon kini meluas mencakup isu-isu ekologis yang lebih holistik, seperti pemulihan keanekaragaman hayati, mitigasi gas rumah kaca menyeluruh, serta keamanan air dan pangan. Perubahan prioritas makro ini secara langsung menuntut adaptasi di tingkat profesional dimana Arsitek Lanskap kini dihadapkan pada ekspektasi baru dari klien yang tidak lagi hanya menginginkan estetika atau sekadar ruang hijau, melainkan menuntut data konkret mengenai kontribusi proyek terhadap peningkatan biodiversitas dan pengurangan jejak ekologis secara terukur.

Sebagai konsekuensi dari tuntutan tersebut, pendekatan desain ruang hijau kota mulai meninggalkan pola lama hutan kota monokultur yang sebelumnya populer karena efisiensinya dalam penyerapan karbon semata. Industri kini bergerak menuju strategi penanaman polikultur yang memprioritaskan kekayaan spesies demi mencapai ketahanan ekosistem yang lebih kompleks. Pergeseran ini bukan sekadar perubahan visual, melainkan upaya strategis untuk menciptakan habitat yang mampu mendukung jaring-jaring kehidupan yang lebih luas di tengah lingkungan urban. Dampak dari transformasi desain ini menciptakan efek domino pada sektor hulu, khususnya industri pembibitan tanaman. Permintaan akan spesies tanaman yang beragam memaksa pelaku industri untuk meninggalkan model bisnis konvensional. Kita akan menyaksikan peningkatan signifikan dalam sistem kontrak penanaman (contract growing), yang menuntut inovasi dalam pengadaan benih lokal dan pengembangan teknik perbanyakan (propagasi) canggih. Hal ini penting untuk memastikan ketersediaan berbagai spesies tanaman termasuk spesies langka atau endemik dapat diproduksi dalam skala komersial guna memenuhi standar baru lanskap masa depan.

BIM dan Digital Twins (DT)

Dalam diskursus arsitektur lanskap kontemporer, Building Information Modelling (BIM) telah melampaui statusnya sebagai tren teknologi sesaat. Kini, BIM telah terintegrasi menjadi fundamental operasional atau “sistem saraf” dalam alur kerja harian perusahaan desain. Tidak lagi sekadar pilihan, penggunaan BIM telah menjadi mandat imperatif, terutama dalam proyek skala kota yang melibatkan kolaborasi lintas disiplin bersama Arsitek, insinyur sipil, MEP, Infrastruktur, kontraktor, dan manajer fasilitas.

Tuntutan ini muncul dari kebutuhan akan akurasi data yang tinggi. Sebagai contoh konkret dalam perencanaan desain, BIM memungkinkan Arsitek Lanskap melakukan deteksi bentrokan (clash detection) di tahap awal, misalnya memastikan bahwa rencana penanaman akar pohon besar tidak akan merusak jaringan pipa drainase atau kabel serat optik bawah tanah yang dirancang oleh insinyur sipil.

Lebih jauh, klien kini sering mensyaratkan penyerahan “model konfederasi as-built“—sebuah replika digital presisi dari apa yang sebenarnya terbangun di lapangan. Meskipun proses ini meningkatkan beban kerja dan biaya pada fase penyelesaian, hal ini memberikan nilai jangka panjang yang krusial bagi manajemen aset klien di masa depan.

Ketika BIM berfokus pada efisiensi konstruksi, Digital Twins (DT) hadir sebagai evolusi selanjutnya yang berfokus pada siklus hidup dan operasional kawasan. Adopsi teknologi ini kian masif didorong oleh demokratisasi alat survei, kombinasi data spasial kota dengan rekaman drone dan pemindaian Lidar yang kini tersedia pada gawai sehari-hari (seperti iPhone dan Android) telah menurunkan hambatan biaya secara signifikan.

Berbeda dengan model statis, Digital Twins berfungsi sebagai “cermin hidup” dari sebuah kawasan. Contoh Aplikasi DT: Dalam konteks mitigasi iklim, sebuah kota dapat menggunakan Digital Twins untuk mensimulasikan skenario banjir 10 tahun ke depan berdasarkan data curah hujan terkini. Arsitek Lanskap dapat memvisualisasikan bagaimana bioswale atau kolam retensi yang mereka desain akan berkinerja saat badai terjadi.

Selain itu, sensor yang terpasang di taman kota dapat mengirimkan data kelembapan tanah secara real-time ke model DT, yang kemudian secara otomatis mengatur sistem irigasi hanya pada zona yang membutuhkan, menghemat air secara drastis. Meskipun potensinya luar biasa, industri desain saat ini masih bergulat dengan ambiguitas definisi yang membedakan mana yang sekadar model 3D dan mana yang merupakan Digital Twins sejati yang berbasis data dinamis. Fenomena ini serupa dengan masa-masa awal adopsi BIM, di mana edukasi pasar menjadi kunci. Seiring berjalannya waktu, tugas Arsitek Lanskap tidak hanya mendesain fisik, tetapi juga mengedukasi klien tentang bagaimana replika digital ini dapat menjadi alat prediksi yang ampuh untuk mengelola biomassa, transportasi, dan adaptasi perubahan iklim secara presisi.

Sistem Energi Dan Pengisian Daya

Dinamika ekonomi energi global sedang mengalami pergeseran fundamental. Seiring dengan eskalasi biaya energi berbasis jaringan (grid-based), institusi berskala besar seperti sekolah, operator resort, hingga pengelola pusat perbelanjaan kini tidak lagi sekadar menjadi konsumen, melainkan beralih menjadi produsen energi mandiri. Fenomena ini didorong oleh penurunan biaya teknologi surya yang signifikan dalam dekade terakhir. Dalam konteks ini, peran Arsitek Lanskap meluas melampaui estetika dimana mereka kini dituntut untuk melakukan analisis spasial guna menentukan lokasi paling strategis untuk instalasi panel surya atau turbin angin mikro. Keputusan ini harus mensintesis data mikroklimat (durasi penyinaran matahari dan koridor angin) dengan fungsi ruang, memastikan infrastruktur energi tersebut terintegrasi secara harmonis tanpa mengganggu aktivitas pengguna kawasan.

Transisi energi ini berjalan paralel dengan transformasi sektor transportasi, khususnya lonjakan adopsi kendaraan listrik (Electric Vehicles/EV). Gelombang elektrifikasi ini menuntut penyediaan infrastruktur pengisian daya yang masif dan terdistribusi, mulai dari koridor jalan raya, pusat transportasi intermoda, hingga area komersial. Namun, implikasi spasial dari stasiun pengisian EV jauh lebih kompleks daripada sekadar memasang alat pengisi daya.

Dalam masa mendatang seorang Arsitek Lanskap perlu meredefinisi ruang parkir kendaraan, dari transit menjadi destinasi. Perbedaan mendasar antara mengisi bensin (5 menit) dan mengisi daya listrik (30-60 menit) mengubah paradigma desain area parkir secara drastis. Area parkir stasiun pengisian EV bukan lagi sekadar zona transit cepat, melainkan “ruang tunggu eksternal.”

Arsitek Lanskap kini harus merancang “Restorative Charging Zones“. Karena pengemudi harus menunggu, area di sekitar stasiun pengisian dirancang dengan perkerasan berpori (permeable paving) untuk peresapan air, serta dilengkapi dengan pocket park yang teduh. Pohon peneduh di sekitar unit pengisian menjadi krusial bukan hanya untuk kenyamanan manusia, tetapi juga untuk efisiensi teknis yaitu suhu lingkungan yang lebih rendah membantu menjaga kinerja baterai kendaraan dan mesin pengisi daya agar tidak overheat. Selain aspek kenyamanan, integrasi infrastruktur ini juga berhadapan dengan kompleksitas regulasi dan teknis, terutama di kota-kota yang menerapkan Zona Rendah Emisi (Low Emission Zones) atau target pelarangan kendaraan fosil pada area tertentu. Arsitek Lanskap perlu memahami detail utilitas seperti aturan garis sempadan (setback), jalur kabel bawah tanah bertegangan tinggi, hingga penempatan trafo distribusi. Tantangannya adalah menyembunyikan elemen utilitas yang kaku dan masif ini melalui strategi screening vegetasi atau topografi buatan, sehingga infrastruktur canggih tersebut dapat hadir secara fungsional namun tetap sensitif dan estetis terhadap karakter visual kota.

The Orange Moon, Jamsil Hangang Park Natural Swimming Pools | Seoul | South Korea

Fleksibilitas Dalam Bekerja

Pasca-pandemi COVID-19, pekerja profesional mengalami transformasi struktural yang signifikan di mana perusahaan mengadopsi sistem kerja jarak jauh penuh (full remote), sebuah strategi yang awalnya dianggap sebagai solusi jitu mengatasi kelangkaan talenta terampil dengan merekrut tenaga ahli lintas geografis. Namun, seiring meredanya krisis kesehatan, euforia kerja jarak jauh permanen mulai menemui titik jenuh.

Bagi pengelola studio desain, koordinasi full remote tidak berjalan efektif sepenuhnya. Lemahnya pengawasan terhadap pekerjaan drafter dan kurangnya kolaborasi secara spontan antar perencana dimana interaksi tatap muka di studio fisik terbukti memiliki nilai tak tergantikan dalam memantik dinamika kreatif yang sering kali hilang dalam ruang virtual. Merespons hal tersebut, tahun 2026 menandai era kedewasaan dalam pola kerja fleksibel. Para profesional yang sebelumnya terisolasi di kota berbeda kini mulai mencari kembali koneksi humanis melalui pekerjaan lokal atau kembali ke studio. Meskipun demikian, sistem kerja jarak jauh tidak sepenuhnya ditinggalkan. Industri kini bergerak menuju model fleksibilitas terstruktur yaitu sebuah kompromi yang menawarkan keseimbangan kehidupan kerja (work-life balance) melalui opsi hybrid, guna mempertahankan retensi talenta di tengah kompetisi pasar tenaga kerja yang masih ketat.

Kelangkaan Tenaga Ahli Arsitek Lanskap

Dalam perspektif ekosistem jasa konstruksi nasional, profesi Arsitek Lanskap tengah menghadapi tantangan serius berupa defisit tenaga ahli yang telah berlangsung selama satu dekade terakhir. Ironisnya, kelangkaan ini terjadi justru di tengah momentum pertumbuhan sektor infrastruktur yang belum pernah terjadi sebelumnya. Tingginya permintaan proyek restorasi kota, pengembangan kawasan wisata prioritas, hingga alokasi anggaran pemerintah yang agresif untuk Transit Oriented Development (TOD), Ruang Terbuka Hijau (RTH), pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN), dan Sekolah Rakyat menciptakan tekanan permintaan (demand) yang tidak mampu diimbangi oleh laju suplai (supply) tenaga profesional yang ada.

Akar permasalahan dari defisit ini dapat dilacak hingga ke sektor hulu, yaitu institusi pendidikan tinggi. Hingga saat ini, jumlah Program Studi Arsitektur Lanskap di Indonesia masih sangat minim jika dibandingkan dengan luas wilayah dan kebutuhan pembangunan negara. Berdasarkan data pangkalan pendidikan tinggi, hanya segelintir universitas yang menyelenggarakan program studi ini secara spesifik untuk Strata-1 seperti Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Trisakti, Universitas Udayana, ISTN, Universitas Tribhuwana Tunggadewi, Universitas Panca Budi, dan Institut Teknologi Sumatera (ITERA), sementara untuk Pendidikan Magister ada di Institut Teknologi Bandung (ITB) dan IPB, sementara beberapa lainnya masih menempatkannya sebagai minat khusus di bawah Arsitektur atau Fakultas Pertanian.

Kondisi ini menciptakan disparitas yang mencolok. Dengan populasi lebih dari 280 juta jiwa dan ribuan pulau yang membutuhkan pengelolaan lanskap, keberadaan kurang dari 15 program studi spesifik di seluruh nusantara adalah sebuah anomali statistik. Akibatnya, output lulusan per tahun sangat terbatas dan sering kali terpusat di Pulau Jawa dan Bali, membiarkan wilayah lain mengalami kekosongan tenaga ahli lokal.

Oleh karena itu, penyelesaian masalah ini menuntut lebih dari sekadar mekanisme pasar dimana diperlukan intervensi kebijakan strategis dari pemangku kepentingan, termasuk Kementerian Pendidikan Tinggi dan Sains Teknologi (Diktisaintek) dan Asosiasi Profesi (IALI). Terdapat urgensi mendesak untuk mendorong pembukaan Program Studi Arsitektur Lanskap baru di berbagai perguruan tinggi di luar Jawa seperti di Kalimantan, Sulawesi, dan Papua. Langkah ini bukan hanya untuk mengejar kuantitas lulusan, melainkan untuk melahirkan arsitek lanskap yang memiliki pemahaman kontekstual mendalam terhadap ekologi dan budaya lokal setempat. Tanpa percepatan di sektor pendidikan ini, target pembangunan berkelanjutan Indonesia menuju Indonesia Emas 2045 berisiko terhambat.

Optimisme Menuju 2026

Melangkah menuju tahun 2026, profesi ini tidak sedang berjalan di ruang hampa, melainkan membawa bekal berharga berupa resiliensi adaptif yang telah ditempa secara keras selama masa krisis global. Meskipun bayang-bayang fluktuasi ekonomi dan potensi resesi masih mewarnai cakrawala prediksi, semangat kolektif industri menunjukkan kematangan yang luar biasa. Kita telah belajar bahwa ketidakpastian bukanlah akhir, melainkan katalisator bagi adaptasi dan inovasi. Optimisme ini bukan sekadar harapan kosong, melainkan didasarkan pada kesiapan kita untuk merangkul perubahan paradigma dari cara kerja yang hybrid hingga respons desain yang lebih empatik terhadap lingkungan.

Sebagai penutup, tren 2026 mengajarkan kita bahwa masa depan bukanlah pertarungan antara alam dan mesin, melainkan sebuah simfoni kolaboratif. Semoga tulisan ini tidak hanya berhenti sebagai wacana, tetapi menjadi pemantik inspirasi untuk terus berinovasi, memperluas wawasan, dan mengambil peran aktif dalam merancang bumi yang lebih lestari. Selamat berkarya menyongsong masa depan. Salam Lestari.

Penulis : Ir. Atma Winata Nawawi, ST., M.Ars., IALI.

Pengurus Nasional Ikatan Arsitek Lanskap Indonesia (PN-IALI)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *