
Dalam perhelatan Pameran Arch:ID 2026 yang diselenggarakan pada 23-26 April 2026 di ICE BSD Banten, Ikatan Arsitek Lanskap Indonesia (IALI) memberikan kontribusi pemikiran intelektual melalui diskusi profesi bertajuk “Designing Healing Spaces: Collaboration Across Interior, Landscape, and Light“.
Kegiatan ini berlangsung pada Kamis (23/04) di area Tetenger Tutur ini menghadirkan kolaborasi lintas disiplin antara Yanuar Prihana N. (Ninil) selaku perwakilan IALI, Adi Surya Triwibowo selaku Ketua Umum Himpunan Desainer Interior Indonesia (HDII), dan A. Danang Ismoyo dari Himpunan Teknik Iluminasi Indonesia (HTII), dengan dipandu oleh moderator Gathi Subekti dari Badan Inkubator Arsitek Muda & Komunitas IAI.

Dalam pemaparannya, praktisi Lanskap yang akrab disapa Ninil ini menekankan bahwa fenomena gaya hidup urban kontemporer yang didominasi oleh mobilitas tinggi serta interaksi intensif dengan perangkat digital telah memicu degradasi kualitas kesehatan publik akibat minimnya keterlibatan dengan elemen natural. Berdasarkan standar World Health Organization (WHO), kesehatan yang holistik mencakup kesejahteraan fisik, mental, dan sosial, yang secara spasial memerlukan ketersediaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) minimal sebesar 9 m² per orang. Profesi Arsitek Lanskap dipandang sebagai instrumen krusial dalam menciptakan “Healthy Space” karena alam memiliki kapabilitas restoratif yang signifikan. Penelitian menunjukkan bahwa paparan terhadap elemen hijau secara efektif menurunkan kadar hormon kortisol (stres) serta meningkatkan fungsi kognitif melalui stimulasi neurotransmiter seperti serotonin dan dopamin.

Lebih lanjut, integrasi desain biofilik dalam lingkungan binaan tidak hanya berfungsi sebagai elemen estetis, tetapi juga memberikan solusi fungsional terhadap degradasi kualitas udara di dalam ruangan (Sick Building Syndrome) yang sering terkontaminasi oleh Volatile Organic Compounds (VOC). Spesies vegetasi lanskap tertentu, seperti Sansevieria trifasciata (lidah mertua) dan Epipremnum aureum (sirih gading), terbukti secara ilmiah mampu mereduksi polutan berbahaya dan meningkatkan konsentrasi oksigen secara optimal. Strategi desain yang mengoptimalkan pancaindra melalui stimulasi visual, aroma, serta auditif seperti suara gemericik air dan kicau burung menjadi esensial dalam menciptakan ekosistem perkotaan yang berkelanjutan sekaligus mendukung pemulihan kesehatan manusia secara komprehensif.

Acara talkshow ini ditutup dengan sesi diskusi interaktif, yang mempertegas pentingnya sinergi antara desainer interior, arsitek lanskap, dan ahli pencahayaan dalam merancang ruang yang menyembuhkan. ARCH:ID merupakan forum dan pameran arsitektur tahunan terbesar di Indonesia yang digagas oleh Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) berkolaborasi dengan CIS Exhibition. Ajang ini berfungsi sebagai platform strategis bagi arsitek, desainer, dan industri lingkungan binaan untuk berjejaring, berkolaborasi, serta menampilkan inovasi material bangunan.

Dalam event tahun ini, IALI berkolaborasi dengan HDII dan HTII untuk meramaikan pameran dengan booth yang pengadaan softscape pameran didukung oleh Tropica Greeneries.
