Kasus dugaan penebangan 10 pohon di Jalan Riau (R.E.Martadinata) Kota Bandung yang saat ini tengah menjadi perhatian publik dan dalam proses penyelidikan aparat penegak hukum tidak hanya menghadirkan persoalan administratif maupun hukum semata. Di balik peristiwa tersebut terdapat isu yang lebih mendasar, yaitu hilangnya fungsi ekologis pohon sebagai infrastruktur hijau perkotaan yang selama puluhan tahun berperan menjaga kenyamanan lingkungan kota. Bagi masyarakat, pohon seringkali dipandang sebagai elemen pelengkap estetika jalan. Namun dari perspektif arsitektur lanskap, pohon merupakan komponen vital yang berperan dalam mengendalikan suhu mikro, menghasilkan oksigen, menyerap karbon, mengurangi polusi udara, serta membentuk identitas ruang kota.

Gambar 1 Lokasi Penebangan 10 pohon di Jalan Riau, Kota Bandung
Jalan Riau (Jalan L.R.E. Martadinata) merupakan salah satu koridor kota yang memiliki karakter kuat melalui deretan pohon peneduh yang membingkai ruang jalan. Selain berfungsi sebagai jalur transportasi dan kawasan komersial, koridor ini juga menjadi ruang publik yang banyak digunakan oleh pejalan kaki. Keberadaan pohon-pohon besar di sepanjang jalan berperan penting dalam menciptakan kenyamanan termal di sepanjang jalan tersebut. Hilangnya sepuluh pohon pada koridor tersebut bukan sekadar sebagai kehilangan vegetasi, melainkan berkurangnya layanan ekosistem yang selama ini dinikmati masyarakat.
Salah satu fungsi terpenting pohon di kawasan perkotaan adalah kemampuan menurunkan suhu udara melalui mekanisme naungan (shading) dan evapotranspirasi. Kanopi pohon bekerja sebagai pelindung alami yang menghalangi radiasi matahari langsung ke permukaan tanah, trotoar, maupun bangunan. Kombinasi antara efek naungan dan evapotranspirasi ini dapat menurunkan suhu udara di sekitarnya, meningkatkan kenyamanan termal bagi masyarakat, serta mengurangi fenomena urban heat island yang semakin sering terjadi di kota-kota besar akibat dominasi perkerasan dan minimnya ruang hijau.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kawasan yang memiliki tutupan kanopi pohon yang baik dapat memiliki suhu udara 2 – 4°C lebih rendah dibandingkan area yang minim vegetasi. Pada skala yang lebih kecil, suhu permukaan material trotoar atau aspal yang terlindungi naungan pohon bahkan dapat lebih rendah 13,8°C hingga 22,8°C dibandingkan dengan suhu permukaan material yang terpapar matahari secara langsung (Sumber : Napoli, M., Massetti, L., Brandani, G., Petralli, M., Orlandini, S. (2016). Modeling Tree Shade Effect on Urban Ground Surface Temperature. Journal of Environmental Quality, 45(1), 146–156.) Perbedaan ini sangat signifikan terutama di kota-kota tropis seperti Bandung yang mengalami peningkatan suhu akibat urbanisasi dan berkurangnya ruang hijau.
Selain memberikan naungan, pohon juga melakukan proses evapotranspirasi, yaitu pelepasan uap air melalui daun yang membantu mendinginkan udara di sekitarnya. Mekanisme ini serupa dengan sistem pendingin alami yang bekerja tanpa energi listrik. Oleh karena itu, keberadaan pohon besar dengan tajuk lebar memiliki nilai ekologis yang jauh lebih tinggi dibandingkan vegetasi berukuran kecil atau tanaman hias yang hanya berfungsi dekoratif.
Jika diasumsikan setiap pohon yang ditebang di Jalan Riau memiliki diameter tajuk antara 8 – 12 m, satu pohon dapat menghasilkan area naungan sekitar 60 – 100 m2. Dengan demikian, hilangnya sepuluh pohon berarti Bandung kehilangan sekitar 600 – 1000 m2 area teduh pada salah satu koridor penting perkotaannya. Luasan tersebut setara dengan luasan 2 lapangan basket. Kehilangan area teduh dalam skala tersebut akan langsung dirasakan oleh pejalan kaki, pengguna sepeda, pedagang, maupun aktivitas sosial yang berlangsung di sepanjang koridor jalan.
Dampak lain yang perlu diperhatikan adalah meningkatnya suhu mikro kawasan. Dengan berkurangnya tutupan kanopi, permukaan jalan dan trotoar akan menerima radiasi matahari secara langsung sepanjang hari. Akumulasi panas pada permukaan keras tersebut akan meningkatkan suhu udara di sekitarnya dan memperkuat fenomena urban heat island atau pulau panas perkotaan. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menurunkan kualitas ruang publik dan mengurangi minat masyarakat untuk berjalan kaki. Padahal, salah satu indikator kota yang sehat adalah tersedianya ruang jalan yang nyaman bagi pejalan kaki.
Pohon juga berperan sebagai produsen oksigen yang mendukung kualitas udara perkotaan. Besaran produksi oksigen setiap pohon bervariasi tergantung spesies, ukuran tajuk, umur, dan kondisi tumbuhnya. Menurut penelitian David J. Nowak dkk. dalam Oxygen Production by Urban Trees in the United States (2007) pohon dewasa di kawasan perkotaan mampu menghasilkan sekitar 50 – 100 kilogram oksigen per tahun. Dengan asumsi tersebut, sepuluh pohon yang ditebang berpotensi menghilangkan produksi oksigen sebesar 500 hingga 1.000 kilogram 0ksigen pertahun per tahun. Jumlah tersebut setara dengan kebutuhan oksigen tahunan 5-10 orang dewasa. (Sumber : Guyton & Hall Textbook of Medical Physiology)
Meskipun oksigen di atmosfer tersedia dalam jumlah besar dan kehilangan beberapa pohon tidak secara langsung menyebabkan kekurangan oksigen bagi manusia, angka tersebut menunjukkan bahwa pohon merupakan aset ekologis yang terus bekerja setiap hari tanpa henti. Selain menghasilkan oksigen, pohon yang sama juga menyerap karbon dioksida, menangkap partikel debu, mereduksi polutan udara, dan meningkatkan kelembapan lingkungan. Dengan kata lain, satu pohon dewasa memberikan berbagai manfaat ekologis sekaligus yang sulit digantikan oleh infrastruktur buatan.
Kasus Jalan Riau seharusnya menjadi momentum untuk meninjau kembali cara pandang terhadap pohon kota. Selama ini, pohon sering dianggap sebagai elemen yang dapat diganti dengan mudah melalui program penanaman baru. Padahal, pohon dewasa yang telah tumbuh selama puluhan tahun tidak dapat digantikan secara instan. Menanam sepuluh bibit pohon baru tidak serta-merta menggantikan fungsi ekologis sepuluh pohon dewasa yang hilang. Diperlukan waktu belasan hingga puluhan tahun agar pohon pengganti dapat mencapai ukuran dan kapasitas ekologis yang setara. Dari sudut pandang arsitektur lanskap, setiap pohon dewasa merupakan bagian dari infrastruktur hijau yang memiliki nilai ekologis, sosial, ekonomi, dan budaya. Keberadaannya membentuk identitas ruang kota, meningkatkan nilai visual koridor jalan, serta menciptakan pengalaman ruang yang nyaman bagi masyarakat. Oleh karena itu, keputusan terkait penebangan pohon seharusnya dilakukan secara hati-hati, berbasis kajian ilmiah, dan mempertimbangkan nilai jasa ekosistem yang akan hilang.

Gambar 2 (kiri) Pohon Tanjung (Mimusops elengi) yang telah mengalami pemangkasan (kanan) Bekas Pohon Tanjung yang ditebang
Bandung selama ini dikenal sebagai kota yang memiliki karakter hijau dan iklim yang relatif nyaman dibandingkan kota-kota besar lainnya di Indonesia. Citra tersebut tidak terbentuk secara kebetulan, melainkan merupakan hasil akumulasi keberadaan pohon-pohon besar yang tumbuh di berbagai koridor jalan, taman kota, dan ruang terbuka hijau. Ketika satu per satu pohon dewasa hilang tanpa perencanaan yang matang, maka perlahan identitas ekologis kota juga ikut terkikis. Pada akhirnya, yang lebih penting untuk diperhatikan dari kasus penebangan pohon di Jalan Riau adalah bagaimana masyarakat dan pemerintah memahami bahwa setiap pohon dewasa merupakan investasi ekologis jangka panjang. Hilangnya sepuluh pohon Mahoni (Swietenia mahagoni ) dan pohon Tanjung (Mimusops elengi) di Jalan Riau diperkirakan menghilangkan sekitar 600 – 1000 m2 area teduh, potensi penurunan suhu mikro sebesar 2 – 4°C, serta menghilangkan produksi oksigen sekitar 1.000-2.000 kilogram per tahun. Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa nilai sebuah pohon jauh melampaui fungsi estetika semata. Pohon adalah infrastruktur hidup yang menjaga kenyamanan termal, kesehatan lingkungan, dan kualitas hidup masyarakat kota. Menjaga pohon berarti menjaga masa depan kota yang lebih sejuk, sehat, dan berkelanjutan.

SRI HARTATI, SP., MT., IALI
Pengurus Provinsi IALI Jawa Barat
SKK Lanskap Utama
Dosen Prodi Pertamanan / Arsitektur Lanskap Univ Insan Cendekia Mandiri Bandung
